Senin, 01 Agustus 2011

NUANSA MAKNA DALAM NYANYIAN BERBAHASA INDONESIA


NUANSA MAKNA DALAM NYANYIAN
BERBAHASA INDONESIA

Pada pembelajaran Sastra Indonesia kelas XII Program Bahasa terdapat satu materi pembelajaran (KD.5.1)  menganalisis nuansa makna dalam nyanyian berbahasa Indonesia.
Kompetensi Dasar ini ditunjang dengan materi bahasan:
1.      Ragam makna ( denotasi dan konotasi)
2.  Relasi makna ( sinonim, antonim, homonym, homofon, homograf, polisemi, hiponim, hipernim)
3.      Majas ( metafora, personifikasi, asosiasi, hiperbola, repetisi)
4.      Komponen puisi dalam syair lagu
Sebagai indikator keberhasilan Kompetensi Dasar  tersebut, diharapkan peserta didik dapat melakukan kegiatan sebagai berikut:
·         Mengidentifikasi ragam makna dalam syair lagu Indonesia
·         Mengidentifikasi relasi makna dalam syair lagu Indonesia
·         Mengidentifikasi majas dalam syair lagu Indonesia
·         Mengidentifikasi komponen puisi dalam syair lagu Indonesia
·         Menjelaskan hubungan antarnuansa makna dengan isi lagu
Tugas Siswa: “Buatlah sebuah analisis nuansa makna lagu ’Untuk Kita Renungkan’, karya Ebiet G.Ade !”
1.       Identifikasilah ragam makna dalam syair lagu tersebut!
2.       Identifikasilah relasi makna dalam syair lagu tersebut!
3.       Identifikasiah majas dalam syair lagu tersebut!
4.       Identifikasilah komponen puisi dalam syair lagu tersebut!
5.       Jelaskan hubungan antarnuansa makna dengan isi lagu tersebut!
 (Berilah landasan teori yang cukup sebelum melakukan analisis!), selanjutnya, tuliskan Sumber kutipan dengan benar dan jelas!
------$$$$$$------

Sebagai gambaran analisis, perhatikan baris-baris kalimat pada lagu ‘Kalian Dengarkan Keluhanku’ , karya Ebiet G. Ade berikut, dan pahami maknanya!

KALIAN DENGARKAN KELUHANKU  (Ebiet G.ade)
Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama                               
Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga                
Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku                                             (4)

Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat
Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
Dengan sorot mata yang lebih tajam dari matahari                       (8)

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
Yang biasanya ramah kini membakar hati                                              (10)
Apakah bila terlanjur salah akan tetap di anggap salah
Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali           (12)

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang               (14)
Tuhan bimbinglah hati ini agar tak gelap mata
Dan sampaikanlah rasa inginku kembali menyatu                         (16)
                                                           
CONTOH ANALISIS
1.          Identifikasi Ragam Makna dalam Syair Lagu
Di dalam syair lagu Kalian Dengarkan Keluhanku, karya Ebiet G.Ade setidaknya digunakan dua jenis ragam makna, yaitu ragam makna denotatif, dan ragam makna konotatif. Ragam makna konotatif terlihat lebih mendomonasi dalam lagu ini. Antara ragam makna denotative dan konotatif digunakan secara saling mengisi, sehingga melahirkan makna yang benar-benar cemerlang.
Ragam makna denotatif (makna sebenarnya) seperti terlihat pada kata-kata berikut:
Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum                            (baris ke-6-7)

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
Yang biasanya ramah kini membakar hati                                           baris (10)
Apakah bila terlanjur salah akan tetap di anggap salah
Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali.   baris     (12)

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang                        baris (14)
Tuhan bimbinglah hati ini agar tak gelap mata
Dan sampaikanlah rasa inginku kembali menyatu                  baris (16)

Kata-kata tercetak miring seperti pada kutipan di atas merupakan kata yang digunakan dalam ragam denotatif (makna sebenarnya) sehingga masih dapat ditelusuri maknanya dengan mudah.
Penggunaan ragam makna konotatif  seperti terlihat pada kutipan di bawah ini:

Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama                         
Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya                      (baris 1-2)

Dua kalimat (1-2) merupakan kata / kalimat yang digunakan dalam ragam makna konotatif.
Kalimat (1) Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama,        bukan berarti dari pintu satu ke pintu yang lain dalam makna sebenarnya.  Kata tawarkan nama bukan berarti menawarkan (menjual) nama. Akan tetapi, memiliki makna bahwa  ke mana-mana (aku lirik) melamar (mencari) pekerjaan. Sudah terlalu banyak instansi atau kantor ia kunjungi untuk melamar pekerjaan tersebut.
Kalimat (2) Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya bukan berarti anak (aku lirik) menangis yang sesungguhnya, dan keluh ibunya, bukan berarti (istri aku lirik) benar-benar mengeluh. Kalimat (2) tersebut memiliki makna demi menghidupi, mencukupi kebutuhan keluarga (aku lirik).

Kalimat (4) Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku  menyiratkan makna konotatif secara apik. Kata telanjangi, bukan berarti dilepas baju dan celananya, melainkan bermakna menolak, dan bahkan mempermalukan. Sedangkan kata ‘kuliti jiwaku’ memiliki makna kejam, menyakitkan.
Maksudnya ketika (aku lirik) melamar pekerjaan ke setiap instansi, kantor, di mana pun , ia selalu ditolak dengan kasar, memalukan, bahkan kejam, menyakitkan kalbu.

Kata/frasa nurani embun pagi pada kalimat ‘ke manakah sirnanya nurani embun pagi (kalimat 9) menyiratkan makna asosiasi, yaitu embun pagi yang berarti lembut dan sejuk. Kata ‘membakar hati’ pada kalimat ‘Yang biasanya ramah kini membakar hati’      (Kalimat 10) merupakan bentuk inversi (kebalikan) dari sifat ramah, yaitu sifat-sifat yang memancing emosi, membuat (aku lirik) menjadi naik darah (marah). Makna kalimat (9-10) tersebut adalah “ Ke mana hilangnya sifat –sifat lembut, dan kata-kata yang menyejukkan yang selama ini dimiliki para tetangga?, ke mana hilangnya keramahan yang dimiliki para tetangga (aku lirik) selama ini? Mengapa kini kata-katanya selalu kasar, menyakitkan dan bahkan memancing-mancing emosi atau kemarahan (aku lirik).
Kalimat (13-14) pada bait terakhir:
 Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang                        baris (14)
 merupakan kunci untuk menjawab pertanyaan “siapa sebenarnya (aku lirik) dalam lagu tersebut.
            Kata/frasa “keterasingan ke bumi beradab” pada kalimat (13) menyiratkan makna kembalinya (aku lirik) dari “pengasingan” atau “penjara / bui”, yang dianggapnya sebagai derita yang panjang.

2.            Identifikasi Relasi Makna Dalam Syair Lagu
Relasi makna yang tampak pada syair lagu ‘Kalian Dengarkan Keluhanku’, karya Ebiet G. Ade adalah sebagai berikut:
a.       Relasi Makna Sinonim.
Relasi makna sinonim (persamaan makna kata) pada teks lagu di atas terlihat pada penggunaan kata “ nurani embun pagi” dengan kata “ramah”. Kata nurani embun pagi memiliki makna  sifat lembut, menyejukkan. Sifat lembut menyejukkan ini dapat disinonimkan dengan sifat ramah.
b.      Relasi makna Antonim.
Relasi makna antonym (lawan kata) dalam teks lagu di atas terlihat pada penggunaan kata:
Hitam pekat    ><  jadi pahlawan
Ramah          ><   membakar hati
Keterasingan  ><  bumi beradab

3.            Identifikasi majas dalam syair lagu
Majas atau gaya bahasa yang digunakan pada syair lagu ‘Kalian Dengarkan Keluhanku’, karya Ebiet G. Ade tersebut dapat dijelaskan  sebagai berikut:
a.       Sinekdok Pars pro toto, gaya bahasa dengan menyebutkan keseluruhan ,tetapi dengan maksud sebagian, seperti terlihat pada kalimat:
/ dari pintu ke pintu…./ (kalimat 1) bukan berarti dari pintu ke pintu (ke setiap pintu) yang sesungguhnya, melainkan sudah banyak instansi atau kantor yang dikunjungi.
/ Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga/ (kalimat 3), bukan berarti bahwa mata semua orang yang sesungguhnya, melainkan mata karyawan bagian ketenagakerjaan yang menerima surat lamaran kerja (si aku lirik).
b.      Hiperbola, gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu hal, seperti terlihat pada kutipan syair lagu berikut:
/ demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya/ (kalimat 2). Kalimat ini terasa dilebih-lebihkan karena maknanya adalah untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jadi, anak si aku lirik bukan menangis yang sesungguhnya. Demikian pun istri si aku lirik, bukan mengeluh yang sebenarnya.
c.       Simile, gaya bahasa perbandingan yang disertai dengan kata pembanding, seperti terlihat pada kutipan kalimat berikut:
/ seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku / (kalimat 4). Kata seperti pada kalimat 4 ini menunjukkan adanya penggunaan simile. Selain termasuk simile, kalimat 4 ini bernuansa hiperbola (dilebih-lebihkan).

4.            Identifikasi komponen puisi dalam syair lagu
Komponen-komponen kepuisian yang tampak digunakan dalam syair lagu Kalian Dengarkan Keluhanku’ adalah sebagai berikut:
a.       Diksi.
Rasanya tak diragukan lagi bahwa diksi yang digunakan dalam syair lagu tersebut terasa amat puitis, dengan perpaduan makna denotatif dan konotatif yang begitu kompak. Bahasa figuratif (bermajas) tampak menghiasi sepanjang lagu. (lihat majas). Penyair biasanya melakukan pemilihan kata-kata ini secara cermat, yaitu memilih kata-kata yang memiliki daya ungkap yang khas dan hebat (kuat). Pilihan kata yang demikian, dapat dilihat pada kalimat berikut:
/ Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama/                                          (1)       
/ Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya/                                     (2)       
/ Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku                                            (4)

/ Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat /                                   (5)
/ Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan /                             (6)
/ Dengan sorot mata yang lebih tajam dari matahari  /                       (8)

/ Ke manakah sirnanya nurani embun pagi /                                              (9)
/ Yang biasanya ramah kini membakar hati /                                              (10)
/ Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali        (12)

b.      Citraan
Citraan merupakan unsur kepuisian kedua yang tampak dalam syair lagu tersebut setelah diksi. Karena memang citraan berhubungan dengan diksi. Dengan menggunakan citraan tersebut membuat kata-kata seolah menjadi nyata (konkret) dapat kita dengar dan rasakan.
Citraan yang digunakan pada syair lagu tersebut , antara lain adalah:
(1)   Citraan Gerak (kinestetik imagery), seperti pada kalimat / dari pintu ke pintu…./
(2)   Citraan pendengaran (audio imagery), seperti pada kalimat / demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya/
(3)   Citraan penglihatan (Visual imagery), seperti terlihat pada kalimat / tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga /.
(4)   Citraan peraba, seperti pada kalimat / seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku/  
( dan masih banyak yang lainnya)
c.       Rima
Rima, dalam puisi modern (juga di dalam lagu) bukan unsur yang wajib dihadirkan, akan tetapi rima tersebut dapat diupayakan, maka akan menjadi sumber keindahan puisi /lagu.
 Rima yang tampak d dalam syir lagu tersebut, berupa persamaan bunyi dalam satu kalimat atau pun pada akhir kalimat. Perhatikan kutipan berikut!

Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama                        
Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga                     
Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku                                                  (4)

Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
Yang biasanya ramah kini membakar hati                                        (10)
Apakah bila terlanjur salah akan tetap di anggap salah
Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali    (12)

d.      Tema
Tema yang diangkat oleh pengarang dalam syair lagu Kalian Dengarkan Keluhanku adalah tema kemanusiaan (penderitaan batin). Lagu ini mengetengahkan jeritan hati seorang mantan nara pidana yang tak bisa diterima kembali di tengah-tengah masyarakat. Gambaran tema tersebut terlihat pada kutipan syair berikut:

Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga                      
Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku                                       (4)
Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat
Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
Dengan sorot mata yang lebih tajam dari matahari                (8)
Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
Yang biasanya ramah kini membakar hati                                        (10)
Apakah bila terlanjur salah akan tetap di anggap salah
Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali     (12)
Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang       
e.       Amanat
Sesuai dengan judulnya, ‘Kalian Dengarkan Keluhanku’, lagu ini sebenarnya memiliki amanat atau pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca atau pendengarnya, yaitu agar kita dapat mendengarkan keluhan dan keinginan mantan nara pidana tersebut. Jelasnya, agar kita memiliki rasa perikemanusiaan, dan menghargai upaya, jerih payah, dan niat tulus mantan nara pidana yang ingin kembali ke jalan yang benar.
Gambaran keinginan untuk kembali ke jalan yang benar tersebut terlihat pada bait terakhir lagu, seperti berikut ini:
Kembali dari keterasingan ke bumi beradab
Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang                    baris (14)
Tuhan bimbinglah hati ini agar tak gelap mata
Dan sampaikanlah rasa inginku kembali menyatu                  baris (16)

5.            Hubungan antarnuansa makna dengan isi lagu
Di dalam syair lagu ‘Kalian Dengarkan Keluhanku’, karya Ebiet G.Ade setidaknya digunakan dua jenis ragam makna, yaitu ragam makna denotatif, dan ragam makna konotatif. Ragam makna konotatif terlihat lebih mendomonasi dalam lagu ini. Antara ragam makna denotatif dan konotatif digunakan secara saling mengisi, sehingga melahirkan makna yang benar-benar cemerlang.
Dimulai dari bait pertama ( 4 baris) sebagai berikut:
Dari pintu ke pintu kucoba tawarkan nama                         
Demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga                     
Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku              
Bait pertama ini usaha yang dilakukan (aku lirik) untuk mencarai pekerjaan demi menghidupi dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Akan tetapi ke manapun (aku lirik) melamar pekerjaan, ia selalu ditolak dengan kasar, bahkan dipermalukan, dan ditolak dengan menyakitkan hati.
Bait ke dua (4 baris)
Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat
Apakah dalam sejarah orang harus jadi pahlawan
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum
Dengan sorot mata yang lebih tajam dari matahari               (8)

Bait kedua (baris 5-8) menyiratkan makna bahwa (aku lirik) merasa seakan berputus asa, apakah kisah hidupnya, kariernya akan selalu hitam pekat (dalam kegelapan/kejahatan selamanya). Ia merasa diperlakukan tidak adil oleh masyarakat (saudara-saudara/tetangganya). Padahal, Tuhan pun tak pernah menghukum dan mengadili umatnya yang salah/jahat dengan demikian kejam, menyakitkan. Tapi mengapa manusia justru menghukumnya dengan demikian kejam, menyakitkan?

Bait ke tiga (4 baris)
Ke manakah sirnanya nurani embun pagi
Yang biasanya ramah kini membakar hati                                         (10)
Apakah bila terlanjur salah akan tetap di anggap salah
Tak ada waktu lagi benahi diri tak ada tempat lagi untuk kembali              (12)

Bait ke tiga merupakan pertanyaan yang sebenarnya serius untuk kita simak dan renungi. Aku lirik bertanya kepada kita, ” kemanakah hilangnya sifat-sifat  ramah, baik hati , menyejukkan, menyenangkan, dan sifat saling menolong yang kalian miliki?” Mengapa yang dulu biasanya engkau ramah, kini membakar hati, menyebalkan, menyakitkan, dan memancing amarah?” Apakah bila seseorang telah berbuat kesalahan akan dianggap salah untuk selamanya? Apakah tidak bisa (aku lirik) berubah, muembenahi diri menuju jalan yang benar? Dan apakah tak ada tempat lagi bagi  ia (aku lirik) untuk kembali diterima secara baik-baik di masyarakat?
Jadi, lagu ini sebenarnya ingin menggambarkan betapa menderitanya seorang mantan nara pidana yang ingin kembali ke masyarakat baik-baik. Kesalahan yang pernah diperbuatnya di masa silam menyebabkan masyarakat di sekitarnya enggan menerimanya kembali. Ia (aku lirik / mantan nara pidana) tersebut selalu ditolak dengan kasar , dicurigai, dipermalukan ketika hendak mencari pekerjaan sebagai orang baik-baik. Sifat ramah, lembut dan menyejukkan hati, yang selama ini dimiliki masyarakat di sekitar (aku lirik) kini sirna. Semuanya hilang bagai jarum menyelam di tumpukan jerami selepas panen.
 -SEMOGA SUKSES-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar